Letusan Gunung Krakatau dan Bekasi
Saat Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat pada 27 Agustus 1883 dan menghebohkan jagad dunia hingga sekarang, jauh sebelumnya Gunung Krakatau telah meletus dengan lebih dahsyat. Kedahsyatannya mencapai 10 kali lipat (volume magma di tahun 1883 sebesar 20 kilometer kubik magma, letusan di tahun 535 mencapai 200 kilometer kubik magma, sedangkan letusan Gunung Tambora di tahun 1815 mencapai 160 kilometer kubik). Padahal letusan 1883 itu daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.[1]
Tercatat letusan tersebut terjadi ditahun
535. Hembusan debunya, dalam jumlah yang sangat banyak menyembur ke atmosfer
hingga demikian tinggi untuk kemudian menyebar ke segenap penjuru lapisan
stratosfer. Dari 200 kilometer kubik magma yang dilontarkan oleh Krakatau, 10-80 kilometer
kubik dalam bentuk debu memuncah ke lapisan stratosfer. Sedangkan di dataran
sekitar Krakatau ketinggian debu mencapai 25 meter.
Ledakan
Krakatau diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan
massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai
atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat
selama 10-20 tahun.
Akibatnya,
dampak letusan tidak hanya dirasakan oleh warga setempat dan saat itu saja,
melainkan menyebar ke seluruh
dunia dan hingga beberapa tahun kemudian. Dari hamparan debu di atmosfer yang
sangat banyak dan memakan waktu yang lama itulah yang menyebabkan terjadinya
perubahan iklim dunia yang begitu dramatis dan ekstrim di tahun-tahun
berikutnya. Sehingga menurut David Keys dalam bukunya Catastrophe: An
Investigation into the Origins of the Modern World, ledakan
tersebut turut andil dalam membuat beberapa peradaban di
belahan dunia runtuh atau masuk dalam abad kegelapan. Daerahnya tersebar di
daerah Afro-Eurasia (dari Mongolia ke Inggris, dari Skandinavia hingga selatan
Afrika), daerah Timur Jauh (Cina, Korea, dan Jepang), Mesoamerica
(Mexico/Amerika Tengah), dan Amerika Selatan. Di daerah-daerah tersebutlah
dampak letusan Krakatau begitu terasa.
Mengenai kepastian tahun
terjadinya letusan, dapat diketahui melalui laporan-laporan di berbagai belahan
dunia terkait dengan peristiwa yang memiliki kaitan dengan ledakan Gunung
Krakatau. Selain itu juga melalui teknik
pertanggalan karbon radioaktif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ken Wohletz, seorang ahli vulkanologi di Los
Alamos National Laboratory. Dalam penelitiannya pada
lapisan es di Antartika, Greenland, dan Pegunungan Andes yang berasal dari tahun 535 terkandung asam
sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Kadar asam sulfat tersebut yang tertinggi sepanjang 2000 tahun terakhir.
Dari penelitiannya juga diketahui bahwa magma yang keluar dari Gunung Krakatau
membuat pulau Jawa dan Sumatera menjadi satu. Lalu karena ledakannya yang
begitu dahsyat, membuat jalur yang tercipta menjadi hancur dan memisahkan kedua
pulau tersebut.[2]
![]() |
Simulasi komputer yang dilakukan oleh Ken Wohletz dalam laboratorium. Sumber: Ken Wohletz |
Jadi, Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sempat menyatu saat isi lava dari Gunung Krakatau perlahan keluar menutupi Selat Sunda. Namun kembali terpisah akibat letusan yang begitu dahsyat tersebut. Dalam peta nusantara yang dibuat oleh Ptolemy pada tahun 150, terlihat bahwa memang antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera itu sebenarnya sudah terpisah. Dipisahkan oleh Selat Sunda. Dalam peta tersebut tertulis Funda.
Peristiwa meletusnya Krakatau di tahun 535 sendiri di Kerajaan Tarumanagara tidak terdapat dokumentasi yang menceritakan kejadian dahsyat tersebut. Padahal, kalau dilihat dari lokasi kerajaan yang dekat pesisir pantai utara Jawa, dan tidak jauh dari Krakatau, seharusnya ada dampak yang ditimbulkan terhadap Tarumanagara.
![]() |
Peta buatan Ptolemy tahun 150. |
Peristiwa meletusnya Krakatau di tahun 535 sendiri di Kerajaan Tarumanagara tidak terdapat dokumentasi yang menceritakan kejadian dahsyat tersebut. Padahal, kalau dilihat dari lokasi kerajaan yang dekat pesisir pantai utara Jawa, dan tidak jauh dari Krakatau, seharusnya ada dampak yang ditimbulkan terhadap Tarumanagara.
Menurut
Naskah Wangsakerta sendiri, tahun 535 merupakan tahun Raja Tarumanagara yang ketujuh, Candrawarman berakhir (515 – 535). Tampuk kepemimpinan
dilanjutkan oleh anaknya yaitu Suryawarman (535 – 561). Tapi tidak diceritakan apa ada hubungannya dengan peristiwa bersejarah tersebut.
Dalam dokumen lain, Pustaka Raja Purwa yang disusun oleh
Raden Ngabehi Rangga Warsita (1802 – 1873), diceritakan bahwa pada tahun 338
saka atau 416 masehi telah terjadi peristiwa yang begitu dahsyat pulau Jawa
kala itu. Isi lengkapnya, “Ada suara
guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang
menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan
hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah
banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung
Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua,
menciptakan pulau Sumatra.” Meski tahunnya tidak sama dengan
hasil penelitian David Keys dan Ken Wohletz, tapi setidaknya mendekati. Terutama peristiwa
yang memiliki cerita yang sama.
Tidak seperti pada peradaban lain
yang punah atau menderita parah sebagaimana dipaparkan oleh David Keys, justru
Tarumanagara tetap gagah berdiri hingga 100 tahun kemudian sebelum ditaklukkan
oleh Kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Tetapi memang pada masa
itu, tidak ada catatan penaklukan yang dilakukan oleh Tarumanagara terhadap
wilayah lain, sebagaimana biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Ada
sejumlah pendapat yang menyatakan bahwa punahnya Kerajaan Aruteun terkait erat
dengan meletusnya Krakatau di tahun 535.[3]
Padahal, sejak tahun 452
Kerajaan Aruteun tidak lagi mengirimkan utusannya ke Negeri Cina. Dan disaat
yang sama, terdapat prasasti yang menyatakan bahwa penguasa Tarumanagara telah menguasai daerah Aruteun. Yang
itu berarti Kerajaan Aruteun sudah tidak ada 83 tahun sebelum Krakatau meletus
dengan dahsyat.
Dampak ledakan Krakatau di tahun 1883 sendiri memang
dahsyat. Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda adalah 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Kapal-kapal yang berlayar jauh
hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami, dan
mayat para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Dunia sempat gelap selama dua
setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar
redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga
New York.
![]() |
Sebaran suara yang terdengar hingga ke beberapa negara di dunia |
Bagi Bekasi sendiri, tercatat dalam surat Residen
Batavia kepada Gubernur Jenderal tertanggal 7 September 1883. Isinya mengenai
kerusakan akibat letusan Krakatau di Cabang Bungin, Pondok Dua, Sembilangan,
Pondok Tengah, Muara Gembong, Blacan, Blubuk, Gaga, dll. Diceritakan bahwa berdasarkan
telegram pada 30 Agustus 1883 dari Assisten Residen Meester Cornelis, terjadi
ombak yang mencapai enam kaki tingginya (gelombang Tsunami akibat letusan
Gunung Krakatau 26-27 Agustus 1883) menghajar perkampungan di pinggir laut. Kampung
Sembilangan Laut lenyap, sedangkan kampung-kampung lainnya rusak berat. 71
rumah, 18 perahu yang masih berada dimuara, dan semua alat penangkap ikan
hanyut. Kerugian materi dan padi belum ditaksir.[4]
Dalam surat tersebut tidak diketahui berapa jumlah korban jiwa.
oleh:
Endra Kusnawan
Buku Sejarah Bekasi; Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini. Herya Media, Depok 2016. Hal: 66-68.
Endra Kusnawan
Buku Sejarah Bekasi; Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini. Herya Media, Depok 2016. Hal: 66-68.
[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau
[2] http://www.ees.lanl.gov/geodynamics/Wohletz/Krakatau.htm.
[3] https://ekliptika.wordpress.com/2014/09/04/menelisik-letusan-krakatau-15-abad-silam-letusan-yang-memisahkan-pulau-jawa-dan-sumatra/
[4] Arsip Nasional
Republik Indonesia. Gunung Krakatau
Meletus 1883. Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta 2003, hlm. 25-27.
Subhanallah...
BalasHapusMaha besar allah dengan segala ciptaannya...
Maha kecil manusia sebagai makhluk dengan segala kesombongannya.
Izin share cang
BalasHapusoke
BalasHapus