ARNAEN Pejuang Dari Warung Bongkok, Cover story Tugu Bambu Runcing



Tugu Bambu Runcing setelah renovasi kedua pada 10 Juli 1970. 

Jika melakukan perjalanan dari Kota Bekasi menuju terminal Cikarang (Kabupaten Bekasi) melalui jalan Imam Bonjol di Cikarang Barat, bisa dipastikan akan menemui sebuah tugu bambu di pertigaan jalan. Bersisian dengan Jalan Perjuangan yang mengarah ke Kampung Tangsi. 

Tugu yang berbentuk sebatang bambu runcing, berdiri tegak menghunus ke langit. Berwarna kuning pada batang, dan berwarna merah seperti lumuran darah pada ujung atas tugu. Lokasinya di daerah yang dikenal dengan nama Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat (sebelumnya masuk wilayah Kecamatan Cibitung). 

Tugu Bambu Runcing diresmikan pada 5 Juli 1962 atas prakarsa Ketua LVRI Ranting Cibitung, Arnaen. Dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat dan pejuang melawan penjajah saat mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai bagian dari LVRI, dan bahkan menjadi ketua, membuat Arnaen berhak dinyatakan sebagai pahlawan. Makamnya saja berada di Taman Makam Pahlawan Bulak Kapal Bekasi dengan nomor urut 31. Tertera di nisan wafat pada tahun 1973.

Sebelum wafat, Arnaen sempat sakit terlebih dahulu. Dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Rumah sakit yang khusus untuk keluarga TNI AD. Ketika itu, dirinya pernah dirawat bersamaan dengan Presiden Sukarno, hanya beda lantai. Arnaen memang seorang pengagum Sukarno. Jadi agak sedikit bangga bisa bersamaan dirawat ditempat dan waktu yang sama.

Tidak diketahui dengan pasti berapa usianya saat meninggal. Menurut keterangan keluarga, diperkirakan usia 50-an tahun. Sebab, pas jaman perang kemerdekaan, usianya baru 20-an.

Cicit Arnaen di pusaranya di TMP Bulak Kapal.

Nama Arnaen tercatat dua kali dalam sejarah. Pertama, masuk dalam daftar 60 pejuang perang revolusi di Bekasi yang dibuat oleh Husein Kamaly melalui bukunya Sejarah Rakyat Di Bekasi Berjuang terbitan tahun 1983. Yang kedua terkait sebagai inisiator pembangunan Tugu Bambung Runcing di Warung Bongkok, diantaranya terdapat  dalam buku Seri Monumen Sejarah TNI Angkatan Darat Jilid 1 terbitan tahun 1977 oleh Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat.

Arnaen, menurut penuturan sejumlah sesepuh warga Warung Bongkok, termasuk tokoh yang sangat dihormati. Dalam upacara peringatan kemerdekaan 17 Agustus, dirinya kerap menjadi inspektur upacara di Kantor Kecamatan Cibitung. Sehingga saat dirinya berinisiatif untuk membangun Tugu Bambu Runcing di pertigaan tidak jauh dari rumahnya, berbondong-bondong masyarakat membantu mewujudkan. Ada yang menyumbang materi, ada yang tenaga saja, dan ada yang keduanya.

Saat peresmian tugu, turut dihadiri oleh LVRI hingga perwakilan Pusat. Jajaran pemerintah hingga Bupati Bekasi, Ismaun, pun turut hadir. 

Mempertahankan Kemerdekaan
Arnaen lahir dari sepasang anak muda. Ayahnya bernama Husen dari Pasar Minggu dan Ibunya adalah Arfah dari Jatinegara Kaum. Masih ada jalur kerabat dengan Mukhtar Tabrani, pendiri Pondok Pesantren An Nur, dari jalur ayah. Dirinya merupakan anak pertama dan memiliki tiga saudara, yakni Arman, Armanih, dan Ramdani. 

Selama penjajahan Jepang, Arnaen yang saat itu tinggal di Jatinegara Kaum termasuk pemuda yang ikut pendidikan semi militer, yakni Syuisyintai (Barisan Pelopor). Barisan Pelopor sendiri diketahui sebagai organisasi sayap pemuda dari Jawa Hokookai atau Kebaktian Rakyat Jawa yang dibentuk pada Juli 1944 oleh Jepang. Diketuai langsung oleh Ir. Sukarno. Pengurus lainnya seperti Chaerul Saleh dan Otto Iskandardinata. Sedangkan untuk wilayah Jakarta, ketuanya adalah dr. Muwardi.

Sebagai organisasi yang diketuai Sukarno, Barisan Pelopor termasuk organisasi yang penting dalam perjalanan proklamasi. Terutama menjelang pembacaan teks proklamasi. Saat itu, dr. Muwardi memerintahkan seluruh anggotanya untuk hadir dan ikut mengamankan situasi. Arnaen yang rumahnya tidak jauh dari Pegangsaan Timur maupun lapangan Ikada, turut berperan dalam pengamanan jalannya peristiwa yang bersejarah tersebut.

Selepas proklamasi pada 17 Agustus 1945, Barisan Pelopor berganti nama menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Arnaen tetap bergabung dan angkat senjata dengan BBRI. Sehingga dia ikut terlibat dalam berbagai pertempuran kecil maupun besar di sekitar Jatinegara dan sekitarnya.

Jenderal Sudirman dan Presiden Sukarno menghadiri perayaan setahun BBRI.

Sebulan setelah proklamasi, Arnaen ikut mengamankan jalannya rapat akbar di Lapangan Ikada yang terjadi pada 19 September 1945.

Akibat keputusan Perdana Menteri Sutan Sahrir, mulai 19 November 1945, ditetapkan bahwa semua elemen militer di Jakarta harus keluar dari Jakarta. Batasnya adalah Kali Cakung. Dengan begitu, Arnaen pun dan rekan-rekan seperjuangannya meninggalkan Jatinegara. Dan menjadikan Bekasi sebagai area tempur baru.

Di Bekasi lah, Arnaen semakin banyak mengenal para pejuang lainnya. Baik dari golongan laskar maupun TNI. Yang bahu membahu mempertahankan bumi Bekasi dari gempuran agresor.

Untuk meningkatkan soliditas perlawanan, Presiden Sukarno pada 18 Maret 1947 mengeluarkan perintah agar semua laskar bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TNI). Termasuk Arnaen yang turut bergabung dengan TNI di Divisi Siliwangi.

Saat Belanda melakukan Agresi Militernya pada Juli 1947 terhadap wilayah republik. Ditambah lagi dengan hasil perundingan. Membuat Arnaen dan para pejuang di Bekasi dan sekitarnya terpaksa hijrah ke Jogjakarta dan sebagian Jawa Tengah juga sebagian Banten. 

Meskipun begitu, pihak TNI memiliki strategi lain. Sejumlah kecil tentara ditugaskan untuk tetap tinggal di tempatnya. Selebihnya ikut hijrah. Dan selama perjalanan ke Jogjakarta, pihak TNI menempatkan sebagaian kecil lainnya untuk tinggal di kota yang mereka lewati. Diantara mereka terdapat Arnaen yang mendapat tugas di Cirebon. Kemudian bergeser Tasikmalaya. Daerah yang telah menjadi milik Belanda.

Selama dalam tugas tersebut, Arnaen bersikap dan berkegiatan sebagaimana layaknya rakyat biasa. Namun sambil tetap melakukan konsolidasi dan menyerukan kepada masyarakat untuk tetap setia terhadap Republik Indonesia. 

Setelah balik dari hijrah di Jogjakarta tahun 1949, pasukan Siliwangi kembali menempati posnya masing-masing. Termasuk yang di Bekasi. 

Ketika kembali tersebut, mereka tidak hanya berhadapan dengan pihak Belanda. Melainkan juga dengan para pihak oportunis yang merongrong rakyat dan pejuang. Termasuk gerombolan di Cibarusah. Arnaen, dibawah komando Alex Kawilarang dan Lukas Kustaryo, pun ikut melakukan penumpasan.

Membangun Rumah Tangga
Saat bertugas di Cibarusah lah, Arnaen muda bertemu jodohnya. Wanita setempat yang bernama Salem binti Misan bin Tumang bin Abdul Hamid (Ki Sabung). Diketahui Ki Sabung merupakan tokoh ternama di daerah Ciketing, Mustikajaya.

Mereka kemudian tinggal di Lemahabang. Sekitar Masjid Al Barkah. Di rumah Saliyah, anak dari Karim yang merupakan kakak dari ibunya Arnaen. Setahun berlalu, Sabilillah Arnaen lahir. Dan terus tinggal di rumah tersebut sampai Sabilillah kelas 4 SD dan memiliki adik bernama Yeyen.

Sekitar tahun 1959, Arnaen dan keluarga pindah ke Cikarang Kaum, depan masjid Al Makmur. Di sana anak ketiganya, yakni Yeyet lahir. Sabilillah melanjutkan sekolahnya di SD Waluya. 

Tidak lama kemudian, pindah lagi ke Warung Bongkok. Daerah yang ditempati oleh sejumlah pejuang dan keturunannya, juga oleh pegawai pengairan yang saat itu sedang dalam proses pembangunan saluran irigasi dan bendungan Prisdo. Sebelumnya, di daerah tersebut juga sudah terdapat beberapa penduduk. Tetapi belum begitu ramai. 

Semakin hari semakin ramai daerah tersebut. Kegiatan ekonomi semakin bergeliat. Hingga muncullah warung di pertigaan jalan. Dimana tidak jauh dari Tugu Bambu Runcing berada. Warung yang kemudian dikenal sebagai Warung Bongkok. Karena pemilik warung memiliki tubuh yang bongkok. Warung yang banyak disinggahi oleh masyarakat setelah beraktivitas. 

Hingga Arnaen menutup mata tahun 1973, dirinya masih tetap tinggal di Warung Bongkok. Anak dan cucu-cucunya pun masih banyak yang tetap tinggal di Warung Bongkok, hingga saat ini.

Membangun Bisinis dan Jaringan Politik
Setelah pihak kolonial Belanda angkat kaki dari bumi pertiwi, Arnaen masih tetap bergabung di militer. Karena masih banyak terjadi letupan pemberontakan di daerah, Arnaen pun ditugaskan ke sejumlah tempat. 

Tetapi itu tidaklah lama. Bersama kawan-kawan seperjuangannya, dia pun gantung senjata pada pertengahan tahun 1950. Yang dilanjutkan dengan penyerahan senjata di Gedung Tinggi Tambun. Sebagai bentuk kompensasinya, sebanyak tujuh orang pejuang mendapatkan tanah seluas 5 hektar di daerah Warung Bongkok (yang saat ini meliputi Kampung Bojong Koneng, Kampung Warung Bongkok, Kampung Jayaraga, Kampung Tangsi, dan Kampung Jarakosta). 

Merekapun kemudian mendirikan badan usaha yang bernama Siasat Muda yang bergerak dibidang Lio (pabrik batu bata dan genteng). Memang saat itu, veteran perang yang pensiun dini, ditawarkan tiga opsi oleh pemerintah. Lanjut berkarir di militer, masuk dalam pemerintahan, atau dikaryakan (diberikan peluang usaha). 

Usaha tersebut terus berkembang seiring dengan sejumlah pembangunan proyek mercusuar Presiden Sukarno di Jakarta. Sehingga Siasat Muda pun tidak hanya bergerak di Lio saja, melainkan ikut memasok sejumlah bahan material seperti kayu, pasir, dan lain. Yang memang sejumlah material tersebut berlimpah di daerah Warung Bongkok, Jarakosta, Cikarang, dan sekitarnya.

Sedangkan untuk pekerjaan ditingkat lokal, Arnaen yang telah memiliki badan usaha juga turut terlibat dalam penyaluran BBM dari Pertamina ke sejumlah agen di Cibitung, Cikarang, dan sekitarnya serta veteran yang mendapat jatah. Perawatan kendarannya dilakukan oleh Sanusi, seorang pejuang yang dikenalnya saat bertugas di Cirebon. Karena bisnis penyaluran BBM semakin besar, membuat Sanusi memiliki usaha bengkel mobil mandiri.

Terlebih saat kawannya yang sesama pejuang, Adam Malik, yang saat itu merupakan tokoh nasional, ikut membuka usaha Lio di Warung Bongkok. Juga kawannya yang lain yakni Chairul Saleh, saat di Barisan Pelopor (BBRI). Yang juga tokoh nasional dan orang dekat dari Presiden Sukarno. Dengan begitu akes pembangunan di Jakarta menjadi lebih mudah. 

Persahabatan Arnaen dengan Adam Malik terbangun sejak terlibat aktif di gerakan Menteng 31 dan Barisan Pelopor saat jaman perang. Persahabatan tersebut terus berlanjut di bidang usaha, dan berlanjut lagi di partai politik, yakni Partai Murba. Di partai tersebut juga terdapat Chaerul Saleh. 

Namun begitu, keterlibatannya di Partai Murba cabang Bekasi, membuat Arnaen kena batunya saat terjadi pemberontakan G30 S/PKI. Dirinya ikut tertuduh sebagai orang PKI. Hal ini terjadi karena sesunggunya masyarakat banyak yang tidak bisa membedakan antara Partai Murba dengan PKI. Yang memang cenderung kiri dan Sukarnois. Padahal Partai Murba dan PKI adalah hal yang berbeda. Bahkan banyak hal yang bertentangan.



Terhadap tuduhan tersebut, dan seiring jatuhnya kekuasaan Presiden Sukarno, lambat laun bisnisnya pun menurun. Yang itu juga pada akhirnya berpengaruh pada kesehatan fisik maupun mental. Sakit pun kemudian lebih sering mendera. Sehingga menjadi tidak jarang harus bolak-balik dan menginap di RSPAD untuk melakukan pengobatan. 

Jiwa bisnis Arnaen ternyata menurun ke anaknya yang pertama. Setelah cukup umur dan pengalaman selama bekerja di Pabrik Patal di Bekasi dan Pabrik Mahardika di Warung Bongkok, Sabilillah membangun jaringan usahnya. Terlibat dalam usaha pembebasan tanah sejumlah kawasan industri dan membangun usaha bidang properti.

DNA bisnis pun terus jatuh ke cucu-cucunya. Tiga orang anaknya Sabililah dan seorang anak dari Yeyet membentuk usaha bersama dibidang jasa dan konstruksi. Dibawah naungan CV Nyimas Alkahfi Nino Abadi.

Menjadi Ketua LVRI Cibitung
Tahun 1957, LVRI terbentuk. Saat Pimpinan Umum BPP LVRI Pusat dijabat oleh Sambas Admadinata periode 1959-1965, yang juga menjadi Menteri Muda Urusan Veteran pada Kabinet Kerja I (1959-1960) dan Kabinet Kerja II (1960-1962), Arnaen ikut mendirikan LVRI Cabang Cibitung. Bersama para pejuang perang revolusi lainnya seperti Mualim. Sambas sendiri merupakan sosok yang tidak asing bagi Arnaen. Karena Sambas merupakan seorang pejuang yang pernah menjadi Komandan Batalyon BKR/TKR/TNI untuk wilayah Bekasi.

Sebelum LVRI, Arnaen dan kawan-kawan lainnya tergabung di Corps Pejuang Republik Indonesia (CPRI) pada tahun 1950. Karena LVRI ditetapkan sebagai satu-satunya organisasi militer resmi saat itu, CPRI pun melebutkan diri ke LVRI. Lokasi sekretariat LVRI Cabang Cibitung, dahulu bertempat di Pasar Haji Abdul Malik. 


Oleh: Endra Kusnawan

Endra Kusnawan
Endra Kusnawan Orang yang senang belajar sesuatu hal yang baru. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit bagian ngurusin CSR. Waktu luangnya digunakan untuk berbagi pengetahuan seputar sejarah, pelatihan dan motivasi. Dalam konteks sejarah, merupakan pendiri Grup diskusi di Facebook, Wisata Sejarah Bekasi, sejak 26 Januari 2013. Juga merupakan pendiri sekaligus Ketua Komunitas Historia Bekasi sejak Agustus 2016. Bisa dihubungi 0818.0826.1352

10 komentar untuk "ARNAEN Pejuang Dari Warung Bongkok, Cover story Tugu Bambu Runcing "

  1. Dulu kursus komputerku di Warung Bongkok LPK Garuda... entah sekarang masih ada apa enggak...

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah jadi makin tau Bae dah ama sejarah kampung dewek, makasih bang Endra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mao tanya emang pak arnaen anak cucu cicit nya siapa ya

      Hapus
  3. Alhamdulillah jadi tambah pengetahuan.

    BalasHapus
  4. Ijin pakai foto bang untuk YouTube chanell boleh bang

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah.. Saya jadi tau sekarang. Tentang sejarah tugu bambu runcing... Dengan rasa hormat dan bangga... Saya ikut mengabadikan sebuah tugu bambu runcing warung bongkok... Dengan membuat sebuah miniatur... Tugu sejarah bambu runcing.....

    BalasHapus
  6. Mantap infonya
    jadi sedikit melek sejarah

    BalasHapus
  7. ARNAEN Layak diberi gelar Pahlawan Kab. Bekasi

    BalasHapus

Posting Komentar