Sambas Atmadinata: Pejuang Bekasi yang Jadi Menteri
Bisa jadi hanya
Sambas Atmadinata yang merupakan pejuang di Bekasi yang pernah menjabat sebagai
menteri. Mulai dari Kabinet Kerja I (1959-1960), Kabinet Kerja II (1960-1962), Kabinet
Kerja III (1962-1963), dan Kabinet Kerja IV (1963-1964) pada era orde lama.
Meski bergonta-ganti perdana menteri, Sambas selalu dipercaya sebagai Menteri
Muda Urusan Veteran. Hanya pada Kabinet Kerja III saja menjadi Menteri Jaksa
Agung. Menjelang akhir pemerintahan Soekarno, Sambas menjabat sebagai Duta
Besar Indonesia bagi Rumania (1965-1968).
![]() |
Saat menjadi Menteri pada Orde Lama. Sumber: International Magazine Services |
Sebagai seorang
pejuang kelahiran 1925, dirinya sudah terbiasa ditempatkan dalam berbagai
posisi dan jabatan. Dalam konteks Bekasi, Sambas merupakan sosok yang paling
lama memimpin para pejuang dalam wadah BKR/TKR/TNI di Bekasi dalam melawan
Inggris dan Belanda. Mulai dari awal kemerdekaan hingga perang revolusi
berakhir. Anak buahnya yang bertebaran di Bekasi dan sekitarnya pun menjadi saksi
tentang kelihaiannya dalam memimpin perang.
Karir kemiliteran
dimulai saat bergabung dengan kesatuan PETA pada jaman pendudukan Jepang. Tidak
lama setelah proklamasi dibacakan, Sambas ditunjuk sebagai Komandan Batalyon V BKR
untuk wilayah Bekasi. Meskipun ada perubahan nama dan struktur dari BKR menjadi
TKR pada Oktober 1945, lalu berganti menjadi TRI pada Januari 1946, dan berubah
lagi jadi TNI pada Juni 1947, Sambas tetap memegang tampuk pimpinan untuk daerah
Bekasi. Termasuk ketika kembali hijrah dari Yogya ke Bekasi atas perintah
Jenderal Soedirman untuk melakukan perang gerilya setelah agresi militer oleh Belanda.
Sebagai tentara
resmi republik yang berada diperbatasan, dirinya kerap menghadapi dilema antara
mengikuti perintah dari pimpinan pusat untuk mundur dari setiap tapal batas
yang terus merugikan Republik, atau tetap menggempur pertahanan musuh bersama
sejumlah laskar yang tidak setuju terhadap tapal batas baru yang ditetapkan
sepihak. Meskipun pada akhirnya, sebagai seorang prajurit, dia tetap mengikuti
perintah atasannya.
Menyadari bahwa
perlawanan terhadap penjajah tidak bisa dilakukan sendiri, sedangkan dilain
pihak terdapat sejumlah elemen masyarakat yang ingin ikut berjuang, membuat
dirinya bersikap fleksibel terhadap keberadaan laskar. Tidak melarang, bahkan
cenderung saling dukung terhadap sesama pejuang. Sehingga dirinya dihormati
oleh laskar yang perang di Bekasi meski terdapat perbedaan dalam melakukan
strategi perang.
Pertempuran yang cukup melegenda di Bekasi, yaitu
pertempuran di daerah Rawa Pasung pada 29 November 1945, pasukan BKR dibawah
pimpinanannya bersama sejumlah laskar dan warga Kranji, Rawa Pasung, Rawa
Bambu, dan sekitarnya bahu membahu melakukan sergapan terhadap pasukan Inggris.
Perang jarak dekat pun tak terelakkan. Hasilnya, pasukan pejuang berhasil
memukul mundur pasukan Inggris yang hendak merangsek ke Bekasi dengan kekuatan
besar.
![]() |
Sejumlah pasukan Inggris yang sedang menuju Bekasi pada 29 November 1945. Sumber Foto: IWM |
![]() |
Sambas Atmadinata (nomer empat dari kiri yang sedang berdiri di belakang). Bersama para pimpinan di jalan yang menuju Bekasi pada 19 Desember 1945.
Sumber Foto: Ipphos
|
Selepas perang di Rawa Pasung, pasukannya hampir tidak
pernah absen dalam melakukan perlawanan. Sebagai pimpinan di daerah perbatasan
antara wilayah penjajah dan Republik, perlu konsentrasi tingkat tinggi dan
cermat dalam membuat strategi perang dan membuat keputusan. Bagaimana
mengarahkan anak buahnya yang mencapai ratusan, kordinasi dengan sejumlah
laskar, melakukan perlindungan terhadap warga, dan tetap menaati perintah
pimpinan.
Termasuk ketika semua pasukan Siliwangi diperintahkan
untuk hijrah ke Yogya dan sekitarnya yang menjadi wilayah republik pada awal
tahun 1948, tidak ketinggalan juga dengan pasukan Sambas yang di Bekasi. Dengan
penempatan di Surakarta, mereka turut mendapat perintah dari Jenderal Sudirman untuk
memadamkan pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya. Diantara prestasi yang
berhasil ditoreh adalah saat Batalyon Sambas
begerak pada 28 September 1948 menuju Pabrik Gula Rejosari (Magetan) yang telah
dijadikan markas oleh PKI. Tidak butuh waktu lama, mereka berhasil membebaskan
tawanan dan menemukan puluhan orang yang telah dibunuh oleh PKI ditempat
tersebut.
Tidak hanya menghadapi penghiatan dalam negeri, Belanda
pun ternyata melakukan penghianatan atas perjanjian yang pernah disepakati.
Dengan melakukan agresi militernya yang kedua pada Desember 1948, Belanda
mengobrak-abrik wilayah kekuasaan Republik. Jenderal Sudirman pun mengeluarkan
strategi perang gerilya. Sang jenderal meminta kepada semua pasukannya untuk
kembali ke daerahnya masing-masing. Termasuk juga pasukan Sambas.
Untuk menghadapi musuh bersama,
Siliwangi yang telah kembali pun bersama-sama sejumlah laskar membentuk
kesatuan. Meskipun cara mereka berbeda, namun agar tidak mudah dipatahkan oleh
Belanda, mereka bersatu padu. Secara resmi, pada 6 April 1949
dibentuk Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur yang merupakan gabungan antara Bambu Runcing (Pimpinan Chaerul Saleh), SP88 (Satuan Pemberontak 88, pimpinan Usman Sumantri), dan Kesatuan Siliwangi dibawah pimpinan Mayor
Sambas Atmadinata. Mereka bersama-sama melakukan perang gerilya melawan
Belanda.
Akan tetapi, kerja sama tersebut akhirnya bubar setelah perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani 7 Mei 1949 di
Jakarta. Isinya bahwa untuk menyelesaikan
konflik antara kedua negara ditempuh jalan perundingan. Untuk menunjang
persetujuan, diadakan gencatan senjata dan gencatan senjata tersebut ternyata
menjadi sumber perpecahan antara laskar dan tentara. Bagi Chaerul Saleh dan
kelompoknya dari Bambu Runcing (BR), persetujuan itu merupakan bentuk
pengkhianatan Republik terhadap prinsip-prinsip Revolusi Nasional.
Pertemuan pada 6
Agustus 1949 di Purwakarta disepakati bahwa Mayor Sambas sebagai pimpinan
Kesatuan Siliwangi menyatakan bahwa TNI tetap bersikap loyal, tunduk pada
putusan gencatan senjata. Sikap yang sama dinyatakan juga oleh SP88. Namun BR
menyatakan sebaliknya. Mereka tetap bertekad melanjutkan perjuangan melawan
Belanda. Pertentangan tersebut mengakibatkan bubarnya staf gabungan.
Selepas perang
revolusi, Sambas Atmadinata tetap berkarir dalam dunia militer. Karirnya terus
menanjak. Pangkat Mayor Jenderal pun diraihnya. Pada Mei 1959, para veteran mempercayakan Sambas
sebagai Pimpinan Umum BPP Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) periode
1959-1965. Tidak berapa lama kemudian, dalam Kebinet Kerja I memasukkan Sambas
sebagai Menteri Muda Urusan Veteran.
Kalau dilihat
perjalanan karir, sepertinya Sambas tidak berkembang saat perang revolusi. Berbeda
halnya dengan rekan-rekannya yang seangkatan lainnya. Hanya dalam hitungan
bulan saja, cepat sekali naik pangkat dan jabatan. Tapi itu tidak membuat dia
menjadi minder, iri, dan dengki. Menjadi malas dalam berjuang, apalagi
berkhianat. Baginya, berjuang bagi tanah air itu tidak perlu perhitungan. Namun
begitu, buah dari dedikasi yang kuat terhadap ibu pertiwi, pangkat dan jabatannya
terus menanjak. Hingga jabatan menteri pun disandangnya hingga beberapa kali.
Suatu prestasi yang belum disamai oleh yang lain dari Bekasi.
Perjuangan dalam
mengusir penjajah dari Bekasi, sudah selayaknya pemerintah atau masyarakat
Bekasi memberikan penghargaan bagi Sambas Atmadinata. Miris memang. Salah satu tokoh
sentral dalam perjuangan di Bekasi ini banyak masyarakat yang tidak mengenal siapa
dirinya. Tidak ada nama jalan, gedung, apalagi monumen yang mengabadikan
tentang pahlawan Bekasi ini. Padahal jejak perjuangannya berserakan dimana-mana.
Dalam memori rekan, pimpinan, apalagi anak buahnya. Sejumlah arsip dan dokumen
juga ada. Tapi entahlah. Museum Bekasi saja tidak ada.
Oleh: Endra
Kusnawan
Dari berbagai sumber
Sambas Atmadinata adalah Letnan Jenderal kelahiran Purwakarta, Jawa Barat. Rumah keluarga besar beliau ada di Kaum, Jl. Mr. Kusumah Atmadja, Purwakarta.
BalasHapusIzin bertanya kalau sambas Atmadinata dimakamkan dimana ya? Saya mau ziarah.
HapusTMP Dereded Bogor
HapusOoh, Sama dg Jendral DiDi Kartasasmita?
BalasHapusDidi Kartasasmita pernah menjadi guru IVEVO (setingkat SMA kejuruan 4 tahun). Pernah menjalin hubungan erat dengan Kepala Sekolah Kejuruan Perempuan, orang Menado. IVEVO institute voor electrotechnise vac onderwys
HapusSambas itu salah satu nama kabupaten di Barat Kalimantan dekat perbatasan Malaysia-Indonesia. Apa Sambas Atmadinata memiliki hubungan dengan kabupaten Sambas ya?
BalasHapusSambas Atmadinata lahir di Cicalengka 9 Juni 1925. Ayahnya pindah dan menetap di Purwakarta sehingga lebih dikenal sebagai orang Purwakarta. Pangkat terakhir adalah Mayor Jendral yang diperolehnya tahun 1962. Waktu menjadi menteri pangkatnya masih kolonel. Tahun 1959 menjadi Brigadir Jendral. Pensiun tahun 1973 dalam usia 48 tahun.
BalasHapus